Lagi-lagi pilu. Aku masih tidak bisa menerima bahwa
mungkin kau memang sama sekali tidak tertarik padaku. Kau selalu saja membuatku
bingung. Gerak-gerikmu sungguh misterius. Tidak tertebak, samar. Terkadang
seolah-olah kau tertarik padaku, namun tak jarang juga seolah-olah kau acuh, bahkan
tidak tertarik dan peduli padaku. Aku tak tahu. Mungkin ini memang waktu yang
tidak tepat. Aku datang pada situasi dan waktu yang salah. Atau sebenarnya aku
yang tidak tahu malu? Apa memang ini semua salahku atas kepercayaan diriku? Aku
juga merasa bersalah akan hal itu. Tetapi, siapa yang tahu jalan dan garis
waktu. Aku ingin sekali menjelaskan semua perasaan ini padamu. Aku ingin
mengungkapkan segala pemikiran, perasaan, dan menumpah-ruahkannya kepadamu.
Hanya saya, aku tidak siap akan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi
ketika aku melakukannya. Aku hanya takut akan kecewa pada ekspektasiku sendiri atas dirimu. Teka-teki yang kau buat ini
benar-benar membuatku kesulitan. Ya, teka-teki ini sulit. Akupun tidak menginginkannya. Aku tidak menginginkan ini terjadi. Tidak, sekarang aku tidak
memaksamu. Aku juga tidak akan mencoba terlalu keras dalam urusan ini. Aku
tidak akan melakukan hal bodoh dan naïf. Tidak, aku tidak sebodoh itu. Aku
tidak sebodoh yang kau pikirkan. Aku tidak senaif yang kau bayangkan. Namun
satu hal yang pasti, aku akan menyerahkan ini semua pada semesta dan
penciptanya. Aku yakin, suatu saat, jika kita adalah sebuah garis yang
ditakdirkan untuk berpotongan dan menyatu, pasti akan bertemu. Namun jika
memang kita adalah sebuah garis paralel, tak apa. Pada akhirnya, kita mungkin
akan bertemu di pada suatu titik; ya. Pada titik yang tak terbatas. Satu hal yang perlu kau tahu, perasaanku ini akan tetap sama. Seperi pada saat pertama kali aku merasakannya. Ya, sampai kapanpun.
Wanderlust, Overthinking, Quiet, Introvert. Mostly about my late-night thoughts, and the Journal. Hi.
Comments
Post a Comment