Skip to main content

Lupakan Jakarta


Kala itu, aku mengenang
Asap tebal yang menampar wajah, mengawali hari
Suara bising keramaian bersenandung menyambut kerasnya kota
Anak kecil yang tersenyum pada sesamanya
Seolah memberi semangat untuk melewati hari ini.

Aku kembali dalam rutinitas
Diinginkan namun tak menginginkan
Berusaha namun tak diusahakan
Terpaksa namun tak dipaksakan

Terbayang suasana membawaku pada nostalgia
Aku merindukannya
Segala upaya namun tetap tersiksa
Berjuang, menahan segala rasa keluh kesah

Dinginnya angin meniup, gelap jalan ku susuri sisi kota
Bulan terang menutup hari dengan indah
Aku kembali, dan meninggalkan segala isinya
Jakarta, sebuah kota yang mungkin akan dirindukan

Mungkin bisingnya, mungkin asap tebalnya
Mungkin keramaiannya, mungkin gedung pencakarnya
Tidak. Aku sudah bertekad
Lupakan.
Ya, lupakan Jakarta.


12:17 a.m
06 Dec 2017

Comments

Popular posts from this blog

Temet Nosce: Sebuah Mantra Hidup

Pernah mendengar Temet Nosce ? Istilah tersebut diambil dari bahasa latin, dikenal dan dipopulerkan melalui filsuf Yunani Kuno, Socrates. Temet Nosce memiliki makna “ Know thyself ” apabila diartikan kedalam bahasa inggris. Ya, kata tersebut adalah kata yang saya kutip di salah satu akun profil media sosial saya. Sebenarnya saya menemukan kata tersebut belum lama ini. Berawal dari hanya iseng-iseng searching bahasa latin sampai akhirnya saya menemukan kalimat tersebut tanpa sengaja. Setelah mencari arti dan makna kalimat ini, saya pun merasa seperti terilhami dan tersadarkan. Pertama kali saya membaca maknanya saya menangis. Inilah yang membuat saya terpukau. Kata ini sungguh sederhana, namun maknanya sangatlah mendalam.  FYI , kata ini sebenernya terpatri di dinding kuil Apollo –the Oracle yang berada di Delphi, Yunani. Dalam bahasa Yunani adalah “ Gnothi Se Authon ” atau dalam bahasa Inggris “ Know thyself and thou shall know all the mysteries of the gods and of the universe ...

Untitled

Lagi-lagi pilu. Aku masih tidak bisa menerima bahwa mungkin kau memang sama sekali tidak tertarik padaku. Kau selalu saja membuatku bingung. Gerak-gerikmu sungguh misterius. Tidak tertebak, samar. Terkadang seolah-olah kau tertarik padaku, namun tak jarang juga seolah-olah kau acuh, bahkan tidak tertarik dan peduli padaku. Aku tak tahu. Mungkin ini memang waktu yang tidak tepat. Aku datang pada situasi dan waktu yang salah. Atau sebenarnya aku yang tidak tahu malu? Apa memang ini semua salahku atas kepercayaan diriku? Aku juga merasa bersalah akan hal itu. Tetapi, siapa yang tahu jalan dan garis waktu. Aku ingin sekali menjelaskan semua perasaan ini padamu. Aku ingin mengungkapkan segala pemikiran, perasaan, dan menumpah-ruahkannya kepadamu. Hanya saya, aku tidak siap akan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi ketika aku melakukannya. Aku hanya takut akan kecewa pada ekspektasiku sendiri atas dirimu. Teka-teki yang kau buat ini benar-benar membuatku kesulitan. Ya, teka-teki ini s...

Sebuah Perasaan

Akhirnya perasaan itu datang. Hari itu, detik itu, aku kembali merasakan sebuah perasaan yang telah lama hilang. Sebuah perasaan yang dikenal sebagai perasaan yang mudah timbul dan tenggelam. Muncul sesukanya, semaunya, seenaknya. Sebuah perasaan. Perasaan dimana kupu-kupu seperti sedang menggelitik perutmu. Perasaan dimana hatimu seperti sedang mengendarai pesawat ulang-alik, terbang bebas menuju tak terbatas. Perasaan dimana kau ingin menari tanpa sebuah alasan. Perasaan dimana terdapat sebuah cahaya harapan dibalik kekhawatiran dan keraguan. Ya. Aku memang tidak pernah meminta untuk diketuk hatinya. Aku memang tidak pernah meminta untuk diberi manisnya sebuah perasaan Aku memang tidak pernah meminta sebuah ketulusan. “Namun aku bersyukur.” Kau datang Kau ketuk Kau berusaha Hingga Kau menang. Memperjuangkan. Hidup dan takdir siapa yang sangka. Sikap, pikiran, dan pandangan siapa yang bisa menebak Hati seperti ombak, ia akan me...